Egois,

Paradigma para pengguna jalan

Saturday, June 29, 2013 Linda Leenk 18 Comments

Hola...
Lama kayaknya belum update blog lagi..
Kali ini saya pingin bahas tentang jalanan di Jakarta. Pasti sudah kebayang bagaimana macet, semrawut, dan egoisnya sebagian pengguna kendaraan di Jakarta kan ya?

source

Pernah tidak kamu melihat, mobil mewah yang tetap melaju meski sudah ada polisi ataupun satpam yang memberi arahan untuk berhenti demi memberikan jalan kepada pejalan kaki untuk menyeberang?

Pernah tidak kamu melihat. motor entah itu ojek atau motor pribadi yang melaju di trotoar dan membuat pejalan kaki terganggu?

Pernah tidak kamu melihat, motor yang nekat memaksa menyempilkan kendaraannya meliuk-liuk di antara kendaraan lain meskipun jaraknya itu mustahil untuk dilewati?

Pernah tidak kamu melihat, pengendara motor yang marah-marah ketika dia menggunakan jalur bus TJ, dan bus TJ di depannya sedang mengantri untuk menurunkan penumpang di halte?

Pernah tidak kamu melihat, pejalan kaki yang seenaknya menyeberang tanpa menghiraukan keadaan jalan yang akan diseberanginya?

Pernah tidak kamu melihat, pengendara mobil yang nekat ingin menerobos lampu merah, namun terpaksa berhenti karena ada pejalan kaki yg menyeberang, dan si sopir membuat ekspresi seolah-olah yang salah si pejalan kaki?

Apa kesimpulan yang bisa ditarik di sini?
Pejalan kaki, pengendara motor, dan pengendara mobil pun semuanya bertingkah tidak sabar. Semua bertingkah egois, semua maunya diberi jalan, maunya dipenuhi haknya tanpa menghiraukan sekitarnya.

Saya di sini kadang ga mau ambil pusing sama yang seperti ini, ketika ada mobil yang minta jalan untuk lewat duluan, ya kasih saja, sepanjang dia tidak mengambil jalan saya. Tapi pernah ketika PMS menyerang, ya saya bisa juga ngedumel ketika orang-orang itu seenaknya berkendaraan di jalan, termasuk pejalan kaki yang ga mau liat kanan kiri dulu sebelum menyeberang.

Kemarin ada kejadian menarik ketika saya akan menyeberang dari Plaza Indonesia ke Grand Indonesia, di sana sudah ada satpam yang bertugas menyeberangkan kami. Si satpam sudah memberikan arahan kepada kendaraan untuk berhenti, namun ada salah satu mobil yang tetap jalan sehinggan akhirnya kami yang akan menyeberang memilih berhenti untuk memberikan jalan kepada beliau.
Terdengar bunyi "BRAK", lumayan keras, dan saya masih tidak sadar sampai akhirnya berhasil menyeberang. Ternyata ada salah penyeberang jalan yang gregetan melihat si mobil yang tidak mau memberikan jalan tadi, dan dia memukul si mobil tersebut waktu melewati kami. :|

Yang terbayang oleh saya, itu tangan ga sakit? :|
Si pemilik mobil memberhentikan mobilnya, menurunkan jendela, dan memanggil si pemukul mobilnya tadi. Si pemukul pun marah-marah ke pemilik mobil karena tidak mau memberikan jalan. Mereka berantem dari jarak yang lumayan sih benernya, entah akhirnya bagaimana karena saya juga langsung masuk mall.

Menyuruh orang lain untuk bisa lebih tertib, untuk mau memahami hak dan kewajibannya ini memang rada susah ya. Sebagian selalu berpendapat, kenapa hanya saya yang harus tertib? Bagaiman dengan pengguna jalan yang lain?

Kalau pendapat saya pribadi sih, akan lebih baik ketika masing-masing orang sadar untuk bertingkah laku tertib. Dimulai dari diri sendiri, bayangkan ketika semua pengguna jalan di Jakarta mempunyai jalan pemikiran yang sama. Anggap saja ini juga demi keselamatan diri sendiri, ketika berbuat baik kita tidak perlu pamrih juga kan?

Agak disayangkan ketika pendidikan sudah tinggi, mampu membeli kendaraan dan barang-barang mahal, tapi kelakuan agak bar-bar. Kamu tidak akan kehilangan banyak hal dengan sedikit mengalah kok, termasuk dengan berbuat baik saat di jalan raya. Sisi positif yang langsung bisa diambil adalah kerutan di muka akan menghilang dengan berkurangnya intesitas marah-marah saat berkendaraan maupun berjalan kaki. :p

Note:
Ini berlaku untuk di kota lain juga kok, tidak hanya di Jakarta. :)

You Might Also Like

18 comments:

  1. nasihat 'sing waras ngalah' engga selamanya benar kalo di jalan. karena kita semua sama punya hak dan kewajiban. solusinya? mo nuding negara ngasih jalan yang aman buat kita, kok agak terlalu mustahil ya :|

    ReplyDelete
  2. Sering banget nih pas lampu hijau (untuk kendaraan) terus ada pejalan kaki yang nyebrang dan mesem-mesem pas diklaksonin mobil.

    Ada juga motor yang nekat nerobos lampu merah pas diklaksonin malah marah-marah.

    Kadang sifat asli orang kelihatan pas lagi berkendara. Kadang.

    ReplyDelete
  3. @nengbiker bukan ttg yg waras ngalah sih
    ini lebih demi kesehatan jiwa raga diri sendiri juga sih
    ketika kondisi jalan tidak bisa diubah, pengguna jalan lain tidak bisa diubah, maka yg harus berubah adalah diri sendiri.
    Ketika semua berpikiran sama, pasti bakal bisa kayak negara maju sih. (semoga) (Aminin aja)

    ReplyDelete
    Replies
    1. @all my closed
      Yup,spertinya kejadian d atas sya prnah mengalaminya jg. Utk hal yg sudah mnjadikan semua ini seolah-olah sperti budaya,marilah utk sayang trhdap diri sndri,krn tdk mustahil trkadang hak dan kwajiban malah akan mmbuat seseorang lupa akan tkdirnya sbg mkhluk sosial,yaitu brbagi sdikit harapan tp bs utk mengubah hal besar bagi seseorang yg mmbutuhkan.
      Utk cth nya sperti yg sudah d share o/ penulis..keep move#semoga bisa jd org yg lbih sabar n bermanfaat:)

      Delete
  4. @CK
    nah itu kamu yang sabar ya kalau nemu yg kayak gitu
    anggap aja si pejalan kaki itu matanya lagi minus, atau dia sedang dibutakan oleh kebahagiaan, sehingga ga liat kalau lampu lalu lintas sudah hijau.

    Trs motor yang nerobos lampu merah dan marah-marah, anggap saja dia kebelet pup makanya buru-buru. Semoga dia segera dibukakan pikirannya untuk mau lebih tertib.

    *pukpuk chika*

    ReplyDelete
  5. Macet sekali Mba Bro Pake sepeda aja kalo ke kantor Bike To work....

    ReplyDelete
  6. @eko
    saya jalan kaki sih ke kantor
    pakai sepeda pun harus liat2 jarak rumah ke kantor, kalau terlalu jauh ya jangan dipaksakan. :)

    ReplyDelete
  7. kalau tidak dari sendiri lalu siapa lagi ? #halah
    heran juga melihat orang di penyebrangan berjalan secepat-cepatnya.
    heran juga jalan sudah macet masih aja pencet-pencet klasksonnya
    yaah itulah jakarta....
    jakarta dengan sejuta karakter dan sejuta umat yang berbeda-beda. :D

    ReplyDelete
  8. haduh... pengguna jalan di jakarta... *langsung lemes*


    Ling, Typomu banyak!!

    ReplyDelete
  9. Icit, eh iya ya? :|
    *langsung ngecek postingan*

    ReplyDelete
  10. Di Jepang ga pernah dong liat yg disebutkan itu semua... (^.^) *pamer budaya Jepang *dikeplak
    Memang kembali ke pribadi masing2 ya... kalo semuanya berpikir "kenapa saya harus tertib disaat yg lain tidak" berarti mental warga negara nya gak bakal maju2 karena semua punya ego masing2...

    ReplyDelete
  11. @ivan iya banget
    suka kesel sm yg ego tinggi kebanyakan nuntut :))

    ReplyDelete
  12. terlepas dari jenis kendaraannya, kadang perilaku seseorang itu bisa tercermin dari seberapa besar ukuran cc mesin yang dimiliki dan dikendarainya. *eh*

    ReplyDelete
  13. @billy jadi semakin besar ukuran cc mesin artinya gmn bil? :p

    ReplyDelete
  14. Aku mending ngalah. sing waras sing ngalah (kecuali lagi PMS) haha

    ReplyDelete
  15. @ceritaeka
    Kalau PMS jgn galak2 ya mbak :|

    ReplyDelete
  16. hai mbak, salam kenal :)
    kalo saya sebagai pejalan kaki sebel banget karena hak trotoar pejalan kaki diambil sama pedagang kaki 5 :)

    ReplyDelete